Minggu, 05 Agustus 2012
Sejarah Pembukuan Al-Qur’an
1. Periode Nabi Muhammad SAW
Alqur’an merupakan sumber ajaran islam yang diwahyukan kepada rasulullah secara mutawatir pada saat terjadi suatu peristiwa, disamping rasulullah menghafalkan secara pribadi, Nabi juga memberikan pengajaran kepada sahabat-sahabatnya untuk dipahami dan dihafalkan, ketika wahyu turun Rasulullah menyuruh Zaid bin Tsabit untuk menulisnya agar mudah dihafal karena Zaid merupakan orang yang paling berpotensi dengan penulisan, sebagian dari mereka dengan sendirinya menulis teks Al-qur’an untuk di milikinya sendiri diantara sahabat tadi , para sahabat selalu menyodorkan al-Qur’an kepada Nabi dalam bentuk hafalan dan tulisan-tulisan. Pada masa rasullah untuk menulis teks al-Qur’an sangat terbatas sampai-sampai para sahabat menulis Al-Qur’an di pelepah-pelepah kurma,lempengan-lempengan batu dan dikeping-keping tulang hewan, meskipun al-qur’an sudah tertuliskan pada masa rasulullah tapi al-qur’an masih berserakan tidak terkumpul menjadi satu mushaf,
Pada saat itu memang sengaja dibentuk dengan hafalan yang tertanam didalam dada para sahat dan penulisan teks Al-Qur’an yang di lakukan oleh para sahabat. Dan tidak dibukukan didalam satu mushaf di karenakan rasulullah masih menunggu wahyu yang akan turun selanjutnya, dan sebagian ayat-ayat Al-Qur’an ada yang dimansukh oleh ayat yang lain, jika umpama Al-Qur’an segera dibukukan pada masa rasulullah, tentunya ada perubahan ketika ada ayat yang turun lagi atau ada ayat yang dimanskuh oleh ayat yang lain.
2. Periode Abu Bakar r.a
Ketika rasullulah wafat dan kekholifaaan jatuh ketangan Abu Bakar, banyak dari kalangan orang islam kembali kepada kekhafiran dan kemurtatan, dengan jiwa kepemimpinannya umar mengirim pasukan untuk memerangi. Tragedi ini dinamakan perang Yamamah (12 H),yang menewaskan sekitar 70 para Qori’dan Hufadz. dari sekian banyaknya para hufadz yang gugur, umar khawatir Al-Qur’an akan punah dan tidak akan terjaga, kemudian umar menyusulkan kepada Abu Bakar yang saat itu menjadi khalifah untuk membukukan Al-Qur’an yang masih berserakan kedalam satu mushaf, pada awalnya Abu Bakar menolak dikarenakan hal itu tidak dilakukan pada masa rasulullah, dengan penuh keyakinan dan semangatnya untuk melestarikan Al-Qur’an umar berkata kepada Abu Bakar “ Demi allah ini adalah baik” dengan terbukanya hati Abu Bakar akhirnya usulan Umar diterima. Abu Bakar menyerahkan urusan tersebut kepada Zaid Bin Tsabit . Pada awalnya Zaid bin Tsabit menolaknya dikarenakan pembukuan Al-Qur’an tidak pernah dilakukan pada masa rasulullah sebagaimna Abu Bakar menolaknya. Zaid bin Tsabit dengan kecerdasannya mengumpulkan Al-Qur’an dengan berpegang teguh terhadap para Hufadz yang masih tersisa dan tulisan-tulisan yang tadinya ditulis oleh Zaid atas perintah rasullullah. Zaid sangat hati-hati didalam penulisannya, karena al-Qur’an merupakan sumber pokok ajaran islam. Yang kemudian Zaid menyerahkan hasil penyusunannya kepada Abu Bakar, dan beliau menyimpannya sampai wafat. Yang kemudian dipegang oleh umar Bin Khattab sebagai gantinya kekhalifaan.
3. Periode Umar Bin Khattab
Pada masa masa Umar Bin Khattab tidak terjadi penyusunan dan permasalahan apapun tentang Al-Qur’an karena al-Qur’an dianggap sudah menjadi kesepakatan dan tidak ada perselisihan dari kalangan sahabat dan para tabi’in. dimasa kekhalifaan umar lebih konsen terhadap perluasan wilayah, sehingga ia wafat. Yang selanjutnya kekhalifaan jatuh ketangan Ustman bin Affan.
4. Periode Ustman Bin Affan
Semakin banyaknya negara yang ditaklukkan oleh Umar Bin Khattab, semakin beraneragamlah pula pemeluk agama islam, disekian banyaknya pemeluk agama islam mengakibatkan perbedaan tentang Qiro’ah antara suku yang satu dengan yang lain, masing-masing suku mengklaim Qiro’ah dirinyalah yang paling benar. Perbedaan Qiro’ah tersebut terjadi disebabkan kelonggaran-kelonggaran yang diberikan Nabi kepada Kabilah-kabilah Arab dalam membaca Al-Qur’an menurut dialeknya masing-masing. Hufaidzah bin Yaman yang pernah ikut perang melawan syam bagian Armenia bersamaan Azabaijan bersama penduduk Iraq. Telah melihaT perbedaan tentang Qiro’ah tersebut. Setelah pulang dari peperangan. Hufaidzah menceritakan adanya perbedaan qiro’ah kepada Ustman Bin Affan, sekaligus ia mengusulkan untuk segera menindak perbedaan dan membuat kebijakan, dikhawatirkan akan terjadi perpecahan dikalangan ummat islam tentang kitab suci, seperti perbedaan yang terjadi dikalangan orang yahudi dan Nasrani yang mempermasalahkan perbedaan antara kitab injil dan taurat. Selanjutnya Ustman Bin Affan membentuk lajnah (panitia) yang dipimpin oleh Zaid Bin Harist dengan anggotanya Abdullah bin Zubair. Said ibnu Ash dan Abdurahman bin Harits.
Ustman Bin Affan memerintahkan kepada Zaid untuk mengambil Mushaf yang berada dirumah Hafsah dan menyeragamkan bacaan dengan satu dialek yakni dialek Qurays, mushaf yang asli dikembalikan lagi ke hafsah. Ustman Bin Affan menyuruh Zaid untuk memperbanyak mushaf yang diperbaruhi menjadi 6 mushaf, yang lima dikirimkan kewilayah islam seperti Mekkah, Kuffah, Basrah dan Suria, yang satu tersisa disimpan sendiri oleh Ustaman dirumahnya. Mushaf ini dinamai Al-Imam yang lebih dikenal mushaf Ustmani, demikian terbentuknya mushaf ustmani dikarenakan adanya pembaruan mushaf pada masa ustmani.
Kesimpulan
Pada masa rasulullah Al-Qur’an hanya berupa hafalan-hafalan yang berada benak dada para sahabat dan tulisan dilempeng-lempeng batu, pelepah kurma dan dikeping-keping tulang, pada masa itu Al-Qur’an masih berserakan belum ada pembukuan al-Qur’an dalam satu mushaf. , atas usulan Umar pada Masa Abu Bakar mulailah terbentuk pembukuan Al-Qur’an, yang dipicu oleh banyak para Qori’ dan hufadz yang gugur pada peperangan Yamamah ( melawan orang yang murtad dari islam ), dikawatirkan Al-Qur’an akan punah. Pada masa Umar Bin Khattab tidak terjadi permasalahan dengan Al-Qur’an, karena pada masa pemerintahan Umar Bin Khattab lebih berorientasi terhadap perluasan wilayah. Masa Ustman terjadi perubahan Mushaf Al-Qur’an karena adanya perbedaan antar suku, atas usulan hufaidazh ustman menyeragamkan pembacaan Al-Qur’an dengan dialek Qurays, yang kemudian Mushaf tersebut disebut Al-Imam yang lebih dikenal dengan mushaf Ustmani.
Jumat, 13 Juli 2012
MTA: Yang Saya Tahu, oleh az-zaytuna
ulisan ini adalah opini pribadi saya sebagai warga Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA) binaan Blonotan, Piyungan, Bantul.
Belum genap satu tahun saya ikut ngaji di MTA binaan Blonotan, Piyungan, Bantul. Belum genap juga saya bisa memahami dan mengerti apa itu Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA) secara lebih detil, lebih intens dan lebih komprehensif.
MTA yang saya tahu adalah Blonotan. Blonotan adalah tanah kelahiran para lelaki dengan bara api di tangan. Blonotan adalah sebuah kampung yang tak lain adalah sebuah noktah kecil pada sesobek peta di pojok Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dan Blonotan, yang saya tahu, telah memiliki andil memberikan kekuatan dan semangat baru bagi saya dan warga MTA binaan ini, yang punya cara sendiri mereprentasikan era kebangkitannya menuju tata nilai baru dalam beragama secara benar menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah.
MTA yang saya tahu adalah pengajian tanpa sarung. Tidak ada pecis — baik yang putih layaknya orang baru pulang haji dan tidak juga kopyah hitam yang sering dipakai tahlilan. Pecis putih dan kopyah hitam, dua simbol kesalehan, dalam kasus tertentu mungkin hanya tepat dipakai oleh seorang ustadz TPA atau rais atau kaum pada acara hajatan tahlilan, misalnya. Tapi kedua tutup kepala plus sarung bukan sebuah kewajiban dan tidak juga diharamkan untuk dipakai di sebuah majlis taklim bernama MTA.
MTA yang saya tahu adalah forum pengajian yang terasa aneh bagi saya yang awam ini. Sama anehnya ketika agama anak yatim bernama Muhammad ini hadir di sudut kampung di kota Makkah. Aneh? Karena setiap hadir, satu per satu, nama jamaah dipanggl untuk diabsen (di MTA sebutan jamaah lebih sering disebut dengan warga). Kok seperti anak sekolah ya, pikir saya dalam hati. Budi! Ada. Yono, tidak ada, karena sakit. Iwan, izin. Sekilas, ada aroma indoktrinasi. Ternyata tidak. Inilah metode untuk menjaga tingkat kedisiplinan dan keistiqomahan warga MTA agar kondisi keimanan mereka tetap pada frekuensi yang stabil. Jangan-jangan, ini aliran sesat yang akhir-akhir gencar di promosikan oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab. Masih bisik hati saya di sudut yang lain. Oh, ternyata tidak juga.
bagian 2
MTA yang saya tahu adalah pengajian tanpa ada ‘kitab kuning’ dengan ketebalan dan keangkeran huruf-huruf arab telanjang bulat di sana. Kemudian dikerangkeng dalam keangkuhan tembok dengan ketebalan tertentu bernama pesantren. Kitab kuning yang ada di MTA ternyata bernama brosur, selebaran berisi kutipan ayat-ayat Al-Qur’an dan Al-Hadist sahih Bukhori-Muslim yang disusun secara sistematis. Disamping brosur, hal terpenting yang harus dibawa adalah seperangkat alat tulis: pulpen dan buku tulis beserta Al-Qur’an terjemahan yang disatukan dalam sebuah tas sederhana dalam berbagai bentuk dan ukuran. Ketiga instrument ini umumnya telah lusuh karena kebanyakan dipakai. Bagi yang tidak biasa, pemandangan ini terasa ganjil. Sepintas, mereka (warga MTA) ini, seperti petugas debt collector kelas kampung, yang nagih utang kepada para ibu di gang-gang sempit di pojok sebuah kampung. Isi tas debt collector (baca: bank plecit), jelas, berisikan buku tebal dengan daftar nama ibu-ibu yang ditagih hutangnya. Sementara, isi buku tulis yang sama tebalnya di tangan warga MTA berisi daftar urutan surat dan ayat tematik Al-Qur’an lengkap dengan catatan ustadz.
MTA yang saya tahu adalah seperti sedang membaca buku ‘Muslim Tanpa Masjid’ (Kuntowijoyo, 2001). Dari sini lahirlah generasi muslim baru yang sedang bermekaran dalam memahami Islam tidak dari sumber–sumber konvensional. Tapi, dari sumber-sumber anonim seperti internet, radio, MP3, audio-video, CD, VCD, televisi, kursus, ruang seminar, bulletin dan brosur.
MTA yang saya tahu adalah sebuah sekolah, sebuah madrasah, atau sebuah pesantren tanpa dinding. Semacam ‘school without wall’. Karena tanpa dinding itulah, saya jadi memahami bahwa di majlis pengajian ini, saya bisa duduk sama rata, juga sama rendah dengan pak polisi, pak guru, pak tani, pak buruh tani, pak pedagang, dengan status sosial yang berbeda. Dengan cara seperti itu, saya bisa merasakan betapa indahnya kehangatan emosional di antara jamaah. Tidak seperti sering terlihat di televisi pada acara peringatan hari besar Islam, misalnya, di masjid Istiqlal. Untuk shaf pertama adalah barisan para pejabat tinggi, para elite politik, dan para bangsawan ahli agama.
MTA yang saya tahu adalah sebuah metode bagaimana saya bisa berinteraksi dengan rumus-rumus Tuhan bernama Al-Qur’an itu secara lebih intens dan lebih mesra, layaknya mambaca surat cinta dari sang kekasih yang lagi mabuk asmara. Kemudian, saya menjadi lebih faham dan lebih tahu, surat Yasin itu surat ke berapa dan Ayat Kursi itu ada pada surat apa. Dua hal tadi — surat Yasin dan ayat Kursi — di kalangan tertentu adalah sesuatu yang wajib dibaca pada malam Jum’at — mau Wage, Pon, Kliwon, Legi, dan Pahing, monggo… silakan.
Bersambung ke bag (3)
MTA yang saya tahu adalah saya menjadi lebih cerdas dan lebih kaya secara spiritual. Sekarang ini, di tengah lingkungan sosial –ekonomi dan politik maupun kebudayaan yang sudah serba kapitalistik, di mana orang hanya mau berbuat sesuatu hanya kalau ada janji keuntungan materi. Ternyata masih bisa saya temukan begitu banyak orang datang ke majlis ini tidak berjenis kelamin cewek matre, terus ikut arus deras gombal globalisasi. Dari sini saya juga lebih faham bahwa yang membedakan manusia di sisi Tuhannya, ternyata hanya taqwanya (QS: 49:13). Bukan pangkat dan jabatannya, mobilnya, rumahnya, hapenya, dan lain-lainnya. Definisi taqwa disini akan lebih konsisten dan aplikatif kalau mau menerjemahkan ke dalam LIMA-I (5-I). I pertama: Ilmu, I kedua: Ikhlas, I ketiga: Istiqomah, I keempat Intensif, dan I terakhir Implementasi. LIMA-I tersebut adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. (Materi Kajian Ustadz Sutarto di MTA Blonotan, Sabtu Sore, 7/5/2011).
MTA yang saya tahu adalah ketika saya bersama lautan manusia yang memadati Gelora Olah Raga (GOR) Kabupaten Sragen, 15 Februari 2011, yang lalu. Pada acara detik-detik peresmian 13 cabang MTA di Kabupaten Sragen itu tak ada qiro’ah layaknya lomba MTQ dengan suara syahdu mendayu-dayu. Tak ada sari tilawah dengan ucapan dan intonasi bak pembacaan sajak-sajak WS Rendra.Tak ada bibir terucap sembari berpuja-puji tahlil. Tak ada gemuruh suara yel-yel ‘Hidup MTA’, ‘Hidup Ustadz Ahmad Sukino’, tak juga ada tepuk tangan membahana. Tak ada asap rokok. Juga tak ada adegan dramatis cium tangan.
MTA yang saya tahu pada setiap acara peresmian cabang atau perwakilan MTA baru, adalah sebentuk aktualisasi diri dari pitutur Jawa “Sepi ing pamrih rame ing gawe”. Suasana itu betul-betul senyap. Sepi nyenyet. Bersih dari hiruk pikuk. Duduk mereka tertib. Tetap duduk tidak beranjak dari duduknya sebelum acara betul-betul usai. Sekali lagi tidak ada puntung rokok berceceran di sana-sini. Karena memang, betul-betul tidak ada kepulan asap rokok.
MTA yang saya tahu pada setiap acara peresmian cabang atau perwakilan MTA baru, adalah saya tidak melihat ada pasukan khusus, semacam pasukan elit Navy SEALs-nya Amerika Serikat yang telah menewaskan gembong teroris, Osama bin Laden. Atau semacam pasukan berani mati dengan ciri-ciri kebal senjata tajam. Yang dimiliki MTA hanyalah satuan tugas (SATGAS), yang pada wajah satgas itu, sama sekali tidak menunjukkan wajah sebagaimana wajah satgas sebenarnya. Serem dan menakutkan. Tapi wajah itu mirip wajah seorang bapak yang ngemong putra-putrinya. Tampang yang tak menggertak itu wajah damai, ramah, dan murah senyum. Sama sekali tidak menunjukkan wajah keangkeran seorang bodyguard. Sekali lagi: tidak ada pasukan berani mati di MTA, yang ada justru pasukan berani hidup.
bagian 4
MTA yang saya tahu pada setiap acara peresmian cabang atau perwakilan MTA baru, adalah atmosfer yang demikian menyejukkan dan menyentuh hati. Sesuatu yang lain dari biasanya. Sesuatu yang sering terjadi sebagaimana jamaknya tablig akbar yang digelar di mana pun di seantero jagat Republik ini, selalu menunjukkan sebaliknya. Rusuh dan amburadul.
MTA yang saya tahu adalah atmosfer yang damai, yang tak lain adalah refleksi dari makna sejati dari majlis dzikir yang sebenar-benar majlis dzikir. Tidak merokok adalah dzikir itu sendiri. Tidak beranjak dari duduknya sebelum acara usai adalah dzikir itu sendiri. Tidak membuang sampah adalah dzikir sebenar-benar dzikir. Tampang para satgas yang tak menggertak itu wajah damai, ramah, dan murah senyum adalah juga untaian tasbih dzikir.Dan tablig akbar itu adalah dzikir itu sendiri dalam arti yang sebenarnya.
MTA adalah untaian butir-butir tasbih dzikir tablig akbar yang tertib itu adalah komposisi musik intrumentalia, dalam alunan nada tunggal mengagungkan asma Allah, melalui keberasamaan menegakkan dan meluruskan logika aqidah yang benar.
MTA yang saya tahu adalah ketika saya bersama lautan manusia yang memadati Gelora Olah Raga (GOR) Kabupaten Sragen, 15 Februari 2011 yang lalu. Langit terlihat mendung, bergulung-gulung, laksana burung-burung Ababil, memayungi tiga puluh ribuan jamaah dari berbagai macam kelas sosial-ekonomi yang berbeda, saat Al-Ustadz Drs. Ahmad Sukino naik mimbar untuk meyampaikan tausyiah. Gulungan itu seolah tangan-tangan raksasa yang memberi kehangatan dan kenyamanan atas berlangsungnya sebuah acara yang menggetarkan itu. Itulah invisible hand yang tak lain adalah nusratullah, pertolongan Allah. Sebuah bentuk intervensi Allah Azza wa Jalla dengan curahan dan cucuran rahmat dan hidayah-Nya atas dengungan lebah-lebah bernama komunitas atau warga Majlis Tafsir Al-Quran (MTA).
MTA yang saya tahu adalah ketika saya bertemu dengan seorang bapak bernama Zunaidan. Bapak satu anak ini adalah representasi salah satu wujud militansi warga MTA Blonotan, Piyungan, Bantul. Dari Pak Zunaidan pula saya tahu bahwa pintu surga itu adanya di Wonokromo. Sebuah kampung yang juga dikenal sebagai ‘kampung kyai’ (KH.Muhamad Fuad Riyadi, 2005), yang terletak di Kecamtan Pleret, Kabupaten Bantul.
Bersambung ke bag (5)
“Kowe ngaji neng Blonotan iku, entuk apa to le-le, neng Blonotan (maksudnya MTA binaan Blonnotan) iku apa ana kyai-ne?” rayu ibunda Pak Zunaidan, mencoba mengindoktrinasi putra kesayangannya ini, dengan harapan sang putra tidak ngaji lagi di Blonotan. Kemudian ibundanya meneruskan “Ngaji iku sing bener ora ning Blonotan, tapi sing luwih bener ya neng Wonokromo, sing akeh kyai-ne”
Pak Zunaidan adalah satu contoh, contoh lainnya adalah Doni. Doni adalah anak muda bernama ABG, yang saat ini duduk di bangku SMU. Doni bagi saya adalah mukjizat awal abad dua puluh satu. Jarang — untuk tidak mengatakan tidak ada — anak muda seusia Doni ini mau meluangkan waktu untuk sesuatu yang tidak ada passion khas anak muda. Gaya rambutnya biasa-biasa saja. Tidak dicat warna-warni apalagi dengan gaya rambut sedikit nyentrik ala David Beckam atau Kika, vokalis Slang lengkap dengan celana jins belel yang robek sana-sini. Tampilannya, juga biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Sesekali dia juga bicara tentang timnas dengan logo Garuda di dada yang menyulut kontroversi itu. Tentang Gonzales yang masuk Islam, pemain asing yang telah menjadi warga negara Indonesia. Dan obrolan khas anak muda lainnya.
Adalah Pak Parjan — ini satu contoh lagi, lelaki dengan bara api di tangan. Bapak satu anak ini adalah contoh kongkret paling ekstrem di ‘ajang uji nyali’ MTA Blonotan. Saya katakan paling esktrim, karena bapak yang paling banyak bertanya di forum pengajian MTA ini tidak tinggal (sekali lagi: tidak tinggal) di zona aman (the comfort zone) di sebuah kampung bernama Muhammadiyah 3-K. Muhammadiyah 3-K adalah 3 tempat legendaris yang terdiri dari Kauman, Karangkajen, dan Kotagede. 3-K ini merupakan basis kekuatan utama pergerakan Muhammadiyah. (Ahmad Adaby Darban, 2000). Dengan kata lain, kampung 3-K ini sudah bersih dari berbagai praktek keagamaan dan kegiatan budaya yang oleh Muhammadiyah dikategorikan sebagai perbuatan tahayul, bid’ah dan churafat (TBC movement, pen).
Pak Parjan tidak hidup di wilayah 3-K itu, akan tetapi dia hidup di tengah-tengah sebuah kampung dengan ‘bau anyir darah’ Tahayul, Bid’ah dan Churafat (TBC) yang sangat kental. Konsekuensi logis sekaligus resiko hidup di kampung yang letaknya hanya 3 kilometer arah selatan Kecamatan Piyungan ini. Pak Parjan — juga Pak Zunaidan, Doni, dan warga MTA lainnya, adalah seperti teks terbuka yang terbaca pada bunyi sebuah hadist, “Akan datang suatu masa, orang-orang yang berpegang teguh pada agamanya pada zaman tersebut laksana memegang bara api.” (HR. Tirmidzi)
Bersambung ke bag (6)
Pak Parjan dan kawan-kawan tidak sendirian. Banyak pak Parjan-pak Parjan lain di belahan bumi tanah Jawa yang lain, tepatnya di Kabupaten Puworejo, juga mengalami hal yang sama sebagaimana bunyi hadist tersebut di atas. Hari-hari ini, atau tepatnya dalam dua pekan terakhir menjelang Peresmian MTA Perwakilan Purworejo, yang Insya Allah akan diadakan pada hari Selasa, 17 Mei 2011 mendatang, bara api terus membara di genggaman tangan para warga MTA Purworejo. Bola api itu menggelinding terus, dimulai dari penolakan PCNU Purworejo (Suara Merdeka 01/04/11). Tulisan kolom opini (atau lebih tepatnya sebagai fintah) Ketua PBNU Prof. Said Agiel Siradj (Jawa Pos (05/04/11) bahwa jamaah MTA secara militan menghadang jamaah pengajian yang akan mengadakan yasinan dan tahlilan. Juga tindakan pengusiran dan penganiayaan terhadap 57 warga MTA Blora oleh kelompok tertentu.
MTA yang saya tahu dari paparan kisah-kisah diatas adalah seperti membaca dengan dada berguncang sebuah pemikiran Prof. Sayyed Hossein Nasr yang mengatakan: “Seseorang yang belum pernah bergetar hatinya oleh ke-Agung-an ayat-ayat suci Al-Qur’an dan Teladan Suci Nabi Muhammad SAW, tak akan pernah mampu menggetarkan dunia...!” (The Living Sufism, Temple University Press, 1985).
Peresmian MTA Perwakilan Purworejo, yang Insya Allah akan diadakan pada hari Selasa, 17 Mei 2011 mendatang, adalah sebuah eskpresi (ungkapan) dari real dzikir untuk menggetarkan sekaligus menyulut bara api itu agar terus membara tidak hanya ada pada diri-diri genggaman tangan para warga MTA Purworejo, tetapi juga bara api akan terus membakar warga-warga MTA lain, yang tersebar di penjuru Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), untuk kemudian akan menggetarkan dunia. Wallahu a’lam bissowab.
Tamat
Selasa, 27 Maret 2012
Ritual Hindu dalam Budaya Islam
oleh: al furqon
"Masih banyak umat Islam di Indonesia yang mayoritas masih menjalani tradisi keagamaan dari nenek moyang tanpa dalil yang shahih dari Al Quran dan Hadist. Akibatnya, banyak umat yang bangga dengan ritualnya tetapi itu kepunyaan agama lain (Hindu).” Demikian diungkapkan ustadz Abdul Aziz Sag (Hindu), mantan pendeta agama Hindu yang mualaf, pada sebuah tabligh akbar bertajuk kesaksian mantan pendeta tentang banyaknya amalan ibadah agama Hindu yang diamalkan umat Islam.
Ia mengatakan saat ini menjamur amalan umat agama lain yang tanpa sadar diamalkan umat Islam. Padahal hal tersebut tidak ada dalil dan dasarnya di dalam Alquran maupun hadis Rasulullah saw. “Masih banyak ritual umat Islam ini mengamalkan ajaran agama Hindu,” kata ustadz yang lulusan Pendidikan Guru agama Hindu. Menurut dia, berkembangnya amalan agama lain yang diamalkan umat Islam, lantara agama Hindu masuk Indonesia pada abad ke-8, sedangkan agama Islam masuk pada abad ke-14. "Wajar pengaruh agama lain dalam amalan ibadah umat Islam terpengaruh dengan agama lain yang lebih dulu masuk ke Indonesia," papar pemilik nama asli Ida Bagus Erit Budi Winarno, yang berasal dari kasta Brahmana.
Ia mencontohkan beberapa amalan yang diamalkan umat Islam menyerupai ajaran agama Hindu yang meliputi Pernikahan, Kelahiran, Kematian, Selamatan/Syukuran. *
Seputar Pernikahan
Kembar Mayang.
Yakni dua buah rangkaian hiasan dengan bahan utama janur (daun kelapa) yang dhias sedemikian rupa lalu ditancapkan pada dua potong batang pisang dengan posisi berdiri. Kembar mayang itu sendiri ditancapkan pada dua buah bokor (bejana dari perunggu atau kuningan).
Daun kelapa tersebut dirangkai dalam bentuk gunung, keris, cambuk, payung, belalang, burung. Selain janur dilengkapi pula dengan daun-daun lain seperti daun beringin, puring, dadap srep dan juga dlingo bengle. Makna dari kembar mayang adalah untuk membuang sial/mbucal sengkolo (tolak bala) pada pengantin pria.
Didalam pernikahan MC juga mengatakan “….kembar mayang bade kabucal wonten ing prosekawan kagem mbucal sengkala (pen: untuk membuang sial)”. Dalam fakta kehidupan banyak orang Jawa yang takut untuk tidak memakai kembar mayang ketika menikahkan anaknya. Hal demikian membuktikan bahwa menggunakan kembar mayang bukan sekedar tradisi belaka dengan berbagai argumentasi filosofi simboliknya, tetapi telah menjadi tradisi yang bermuatan keyakinan yang diikat kuat didalam hati (menjadi aqidah). maka tertanamlah di hati masyarakat rasa tidak tenang, was-was dan takut akan terjadi bahaya (sesuatu yang tidak baik) jika tidak menggunakannya. Hanya sedikit orang Jawa muslim yang telah tercerahkan yang kemudian dengan percaya diri meninggalkan kembar mayang.
Hari Baik
Menentukan hari baik ini sangat dipegang dan diperhatikan betul-betul oleh masyarakat Indonesia (Jawa khususnya). Hal ini diambil untuk menentukan hari pernikahan berdasarkan penghitungan tanggal lahir calon pengantin laki-laki dan calon pengantin wanita. Jika ternyata hasil penghitungan yang dilakukan oleh orang pinter (dukun) dinyatakan jelek, maka pernikahan harus diundur atau diajukan, yang penting untuk menghindari hari apes tersebut. Atau bisa dilakukan pada hari/weton tertentu, atau bisa dilakukan dengan membayar sejumlah tumbal menurut petunjuk dukun tersebut, dan yang paling tragis pernikahan tersebut harus dibatalkan.
Injak Telur dan Balang-balangan
Hampir semua perayaan resepsi adat Jawa selalu melakukan ritual injak telur pada saat acara temon (ditemukannya kedua mempelai). Kaki pengantin putra harus menginjak telur hingga pecah lalu dibasuh dengan air bunga oleh pengantin wanita. Jika hal in itidak dilakukan diyakini kelak sulit untuk mendapatkan keturunan.
Seputar Kelahiran
Selamatan Selama Usia Kehamilan
Dari mulai tiga bulan (neloni), empat bulan (mapati) dan tujuh bulan (tingkepan) harus dilakukan selamatan kenduri dengan memanggil paratetangga untuk membacakan do'a agar janin yang dikandung selamat dari marabahaya.
Pada acara tujuh bulan terdapat berbagai ritual lain seperti memecah dua buah kelapa muda yangterlebih dahulu diberi gambar Bathara Kumajaya dan Bathari Kumaratih. Dua dewa untuk sebagai simbol ketampanan dan kecantikan. Karena itu dengan melakukan ini diyakini kelak anak yang akan lahir akan tampan jika laki-laki dan cantik jika wanita.
Di samping itu ada keyakian jika kelapa tersebut dibelah terbelah maka anak yang akan lahir adalah laki-laki atau sebaliknya. Tiga Bulan, Tujuh Bulan. Saat usia kehamilan menginjak 3 dan 7 bulan, maka akan diadakan sebuah acara (yang diyakini) guna memperoleh keselamatan dan kebaikan bagi janin bayi dan juga ibu yang tengah mengandung. Keyakinan ini diikuti dengan perasaan takut dan khawatir jika tak dilaksanakan maka akan dating suatu keburukan dan bahaya.
Kelahiran dan Selapanan.
Setelah bayi lahir biasanya diadakan melek-melek (begadang sampai pagi) hal in untuk menjaga agar bayi tersebut selamat dari marabahaya yang datang pada malam hari, namun tradisi ini mulai hilang di masayrakat perkotaan.
Beberapa hri setelah tali pusar putus maka dilakukan selamatan dengan membuat nasi urap yang dibagi-bagikan tetangga sebagai ucapan syukur karena bayinya selamat. Acara ini dilanjutkan pada hari ke 35 atau yang biasa disebut selapanan. Tujuannya untukmemebri nama si jabang bayi. Upacara in biasanya diiringi dengan bacaan barzanji dziba,, pada saat asyraqal si jabang bayi digendong keliling, setiap orang dianjurkan menggunting ujung rambut dan mengolesi madu pada bibir atau kening.
Seputar Kematian
Brobosan.
Berjalan di bawah keranda yang di dalamnya ada mayit, dilakukan dari kanan ke kiri. Dilakukan oleh saudara si mayit urut dari yang tertua hingga yang termuda.
Payung bagi si mayit. Banyak muslim yang tak paham dengan perbuatan tersebut, namun banyak juga yang mengira dengan dipayungi si mayit tidak merasakan panas sejak diberangkatkan dari rumah menuju makam.
Bedah bumi
Yaitu bacaan do'a pasca pemakan dengan membuat tumpeng belah, yaitu tumpeng kerucut dibelah dan ditata dengan saling membelakangi. Maksudnya agar si mayit di dalam kubur tidak terjepit tanah.
Selanjutnya dibacakan do'a dengan mengundang para tetangga pada hari ke tujuh, empat puluh, seratus, peringatan tahun pertama (mendak pisan), tahun ke dua (mendak pindo) dan diakhiri pada hari keseibu (nyewu).**
Tidak Semua yang Tidak Dicontohkan Nabi Tidak Boleh Dilakukan
oleh :
Ketika pagi itu saya berada di kantor redaksi Furqon, salah seorang penulis Furqon memberikan HP-nya kepada saya karena ada bapak-bapak dari luar kota yang ingin berkonsultasi. Saya terima telepon itu dan saya dengarkan pembicaraan bapak diseberang, namun saya tidak sempat menjawabnya bapak yang diseberang sana tidak memberi saya kesempatan untuk menjawabnya, karena beliau tidak pernah ada putusnya perkataannya.
Tetapi inti dari perkataannya beliau tidak setuju dengan nasehat saya tentang maksud bid'ah dan menjauhi perilaku bid'ah, sehingga ada satu kesimpulan dari beliau sebagaimana diatas, bahwa tidak semua yang tidak dicontohkan nabi itu tidak boleh dilakukan. Si Bapak memberi contoh sholat tarawih, pembukuan al Qur'an, dan semacamnya, yang mana itu semua tidak ada contoh dari Nabi tetapi baik dilakukan dan bermanfaat. Intinya si Bapak menyatakan bahwa kalau hal itu baik maka tidak mengapa dilakukan, meskipun Nabi tidak mencontohkan.
Saya mencoba untuk menjawab bahwa apa yang bapak contohkan itu sesungguhnya telah dicontohkan oleh Nabi saw, tidak mungkin sahabat Nabi melakukan dan membudayakan peribadatan atau keyakinan yang tidak ada contohnya dari Nabi saw. Tarawih berjamaah, pembukuan al Qur'an dan beberapa contoh lain yang disebut si Bapak itu sesungguhnya telah ada contoh dan perintahnya. Jadi tidak mungkin para sahabat melakukan bid'ah, namun ada baiknya saya jelaskan lagi tentang apa itu bid'ah agar jelas dan bisa dipahami.
Bid'ah maknanya sebagaimana dijelaskan imam Asy Syatibi dalam al I'tisham, adalah :
“(Bid'ah adalah) suatu istilah (atau predikat) bagi sebuah cara dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalilnya) yang menyerupai seperti syari'at (ibadah) yang mana maksudnya (dengan membuat-buat sesuatu yang seperti ibadah itu) adalah untuk berlebihan dalam beribadah kepada Alloh SWT.”
Jadi bid'ah itu mempunyai 6 kriteria yang menyatu didalamnya, yang pertama bid'ah adalah tatacara, baik yang sifatnya seremoni, aturan-aturan dan tatacara peribadatan, kreasi ibadah, perayaan, dan sebagainya. Yang kedua, bahwa semua seremoni, aturan-aturan dan tatacara peribadatan, kreasi ibadah, perayaan, dan sebagainya itu sesungguhnya tidak pernah ada tuntunannya (dalil) dan tidak pernah dilakukan oleh Nabi saw. dan generasi terbaik, yaitu zaman sahabat, tabi'in, dan tabi' tabi'in.
Yang ketiga, sifat dari seremoni, aturan dan tatacara peribadatan, kreasi ibadah, perayaan, dan sebagainya itu pasti diserupakan atau dinisbatkan sebagai syariat padahal bukan syari'at. Maka dari itu pelaksanaannyapun pasti diserupakan syari'at atau nebeng dengan syari'at yang telah ada, dan diembel-embeli dengan ayat atau hadis yang sesungguhnya substansi dan isinya tidak berkaitan dengan perilaku bid'ah tersebut agar orang menganggapnya sebagai ibadah yang disyari'atkan
Yang keempat, ciri utama dari bid'ah itu jika tidak membuat seremoni, aturan-aturan atau tatacara peribadatan, kreasi ibadah, perayaan, dan sebagainya yang baru, maka pasti mengadakan tambahan disana-sini terhadap ibadah yang telah disyari'atkan.
Dan kelima, tujuan dari para pelaku bid'ah ini adalah untuk berlebihan dalam ibadah, mereka tidak puas dengan mencukupkan diri terhadap apa yang telah disyari'atkan, mereka minta lebih dan lebih, karena mereka merasa bisa melakukan lebih dari ibadah-ibadah yang telah syari'at. Itulah makanya mereka membuat hal baru yang melebihi syari'at atau menambahi untuk memuaskan nafsu berlebihannya dalam peribadatan. Dan terakhir, dengan melakukan hal baru atau penambahan itu mereka merasa lebih afdhal dari yang tidak melakukannya karena mereka merasa bisa berbuat lebih dari syari'at yang telah ada.
Karakter manusia seperti ini sejak zaman dulu sampai nanti kiamat akan selalu ada, dan bahkan makin banyak. Itulah kenapa Nabi saw. menghentikan 3 orang yang ingin berlebihan dalam agama dengan mengancam jika tidak sesuai dengan sunah beliau maka kelak tidak akan ditolong.
“Berkata anas ra. : “Ada tiga orang mendatangi rumah isteri Nabi saw, salah seorang dari mereka berkata : “Sungguh, aku akan shalat malam selamanya.” Yang lain berkata : “Kalau aku akan berpuasa Dahr (setahun penuh) dan aku tidak akan berbuka." Dan yang lain berkata : “Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selamanya.” Kemudian datanglah Rasulullah saw. kepada mereka seraya bertanya : “Kalian berkata begini dan begitu. Ada pun aku, demi Allah, adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan juga paling bertakwa. Aku berpuasa dan juga berbuka, aku shalat dan juga tidur serta menikahi wanita. Barangsiapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku.” (Bukhari)
Hadis diatas menjelaskan bahwa nafsu manusia untuk berlebihan dalam ibadah sehingga membuat tatacara, aturan, atau kreasi, atau tambahan-tambahan sendiri itu sudah ada sejak zaman dulu, mereka tidak puas dengan syari'at yang telah ada, mereka ingin lebih dan lebih, mereka merasa dengan berlebihan dalam ibadah maka itu merupakan suatu keutamaaan. Namun oleh nabi saw. hal itu justru dicela, bahkan diancam jika tidak kembali dan mencukupkan diri dengan syari'at yang telah ada, maka kelak tidak dianggap sebagai umat beliau saw, dan otomatis mereka tidak akan mendapat pertolongan Nabi saw.
Kenapa Nabi saw. sampai bersikap keras demikian ? Karena pada hakekatnya para pelaku bid'ah dengan sikapnya yang berleihan bukan didasari oleh kecintaan dan ketundukan kepada Nabinya, tetapi mereka bersikap berlebihan ini karena nafsunya yang ingin berlebihan, dan mereka menikmati kebid'ahannya. Sesungguhnya orang yang mencintai dan tunduk kepada Nabinya adalah mereka yang mencukupkan diri dengan perintah Nabinya dan menjaga sunah nabinya dari pengurangan, penambahan, pelemahan dan pemalsuan.*
Rabu, 15 Februari 2012
Saudaraku seiman jangan sampai kena fitnah dan terhasut...
Asssalamu`alaikum wr wb
Saudaraku seiman islam. Kebenaran itu mutlak dari Allah swt. Al Haqqu mirrobbikum. Islam menawarkan keselamatan di dunia dan akherat. Rasulullah saw menyampaikan kebenaran dari Alloh swt, kita tinggal mendengarkan dan menimbang-nimbang setelah itu menutuskan. Sami`na wa `athokna. Kita tidak usah menghakimi satu golongan dengan golongan lain. Tugas dakwah hanya menyampaikan kebenaran tersebut kepada umat, biar umat memilih dan menentukan sendiri pilihannya. Kita sering mendengarkan hasutan-hasutan dari kyai yang sedang menyampaikan dakwahnya, bahkan fitnahan-fitnahan kepada pihak/golongan lain. Kita harus arif/bijaksana dan cerdas, jangan langsung memakan mentah info2 tersebut. Siapa tahu itu adalah fitnahan yang mengandung dosa besar, kalau perlu ingatkan kyai tersebut untuk tidak meneruskan materi yang belum tentu kebenarannya. Menjelek-jelekkan golongan lain atau mengolok-olok golongan lain telah diingatkan dalam al quran, bahwa janganlah kita mengolok-olok suatu kaum, bisa jadi kaum yang kita olok-olokkan itu keadaannya lebih baik daripada golongan yang mengolok-olok.
Dan seharusnya dakwah itu mencerdaskan umat, mengajak umat untuk berfikir ilmiah, kritis, teliti bukannya menghasut untuk ikut mempercayaai apa yang dikatkan kyainya yang belum tentu kebenarannya. Kita harus menguatkan ukhuwah kita umat islam. Musuh islam akan tertawa terbahak-bahak mendengar perpecahan di antara kita. Mereka akan tidak perlu susah payah menghancurkan kita, toh islam akan hancur sendiri. Begitu kata mereka. Renungkanlah.
Saudaraku seiman islam. Kebenaran itu mutlak dari Allah swt. Al Haqqu mirrobbikum. Islam menawarkan keselamatan di dunia dan akherat. Rasulullah saw menyampaikan kebenaran dari Alloh swt, kita tinggal mendengarkan dan menimbang-nimbang setelah itu menutuskan. Sami`na wa `athokna. Kita tidak usah menghakimi satu golongan dengan golongan lain. Tugas dakwah hanya menyampaikan kebenaran tersebut kepada umat, biar umat memilih dan menentukan sendiri pilihannya. Kita sering mendengarkan hasutan-hasutan dari kyai yang sedang menyampaikan dakwahnya, bahkan fitnahan-fitnahan kepada pihak/golongan lain. Kita harus arif/bijaksana dan cerdas, jangan langsung memakan mentah info2 tersebut. Siapa tahu itu adalah fitnahan yang mengandung dosa besar, kalau perlu ingatkan kyai tersebut untuk tidak meneruskan materi yang belum tentu kebenarannya. Menjelek-jelekkan golongan lain atau mengolok-olok golongan lain telah diingatkan dalam al quran, bahwa janganlah kita mengolok-olok suatu kaum, bisa jadi kaum yang kita olok-olokkan itu keadaannya lebih baik daripada golongan yang mengolok-olok.
Dan seharusnya dakwah itu mencerdaskan umat, mengajak umat untuk berfikir ilmiah, kritis, teliti bukannya menghasut untuk ikut mempercayaai apa yang dikatkan kyainya yang belum tentu kebenarannya. Kita harus menguatkan ukhuwah kita umat islam. Musuh islam akan tertawa terbahak-bahak mendengar perpecahan di antara kita. Mereka akan tidak perlu susah payah menghancurkan kita, toh islam akan hancur sendiri. Begitu kata mereka. Renungkanlah.
Rabu, 11 Januari 2012
Pemberitahuan kepada pecinta kajian Ahad Pagi MP3
Assalamu`alaikum wr wb
Bagi para pecinta kajian ahad pagi mp3 yang budiman, selama ini anda dengan mudah mendapatkan materi kajian ahad pagi mp3 dengan mudah di web mta-online, akan tetapi mulai tahun 2012 web tersebut membuka ladang amal bagi saudara untuk berinfak sebelum mendownload materi tersebut, akan tetapi mungkin bagi sebagian kecil saudaraku ada yang kesulitan untuk berinfak maka dengan ini kami sediakan link khusus dari sahabat kita juga yang dengan sukarela memberikan amalannya kepada kita semua dengan menyediakan link download kajian mp3 ini linknya http://darry.wordpress.com/2008/08/29/kumpulan-kumpulan-rekaman-pengajian-dari-mta-solo/ dan http://www.4shared.com/account/dir/NE4K-9SF/_online.html#dir=118624787 selamat mendownlaod.
wassalam
Bagi para pecinta kajian ahad pagi mp3 yang budiman, selama ini anda dengan mudah mendapatkan materi kajian ahad pagi mp3 dengan mudah di web mta-online, akan tetapi mulai tahun 2012 web tersebut membuka ladang amal bagi saudara untuk berinfak sebelum mendownload materi tersebut, akan tetapi mungkin bagi sebagian kecil saudaraku ada yang kesulitan untuk berinfak maka dengan ini kami sediakan link khusus dari sahabat kita juga yang dengan sukarela memberikan amalannya kepada kita semua dengan menyediakan link download kajian mp3 ini linknya http://darry.wordpress.com/2008/08/29/kumpulan-kumpulan-rekaman-pengajian-dari-mta-solo/ dan http://www.4shared.com/account/dir/NE4K-9SF/_online.html#dir=118624787 selamat mendownlaod.
wassalam
Rabu, 04 Januari 2012
Kegiatan Pembangunan Gedung MTA
assalamu`alaikum wr wb
Bapak2 ibu2 untuk sementara pembangunan gedung MTA Binaan Tembalang akan diistirahatkan dahulu, itu semua karena dana yang sudah menipis bahkan habis. Oleh karena itu bagi siapapun khususnya para donatur yang akan menginfakkan dananya maka kami siap menerima. Pembangunan gedung telah mengabiskan dana sebesar Rp. 105.000.000,- ( seratus lima juta rupiah ). Dana tersebut berasal dari infak/sodaqoh, zakat, dan pinjaman. Terima kasih kepada para donatur semoga ini semua menjadi amal baik bagi kita, dan Alloh swt akan melipat gandakan pahalanya. amin
Bapak2 ibu2 untuk sementara pembangunan gedung MTA Binaan Tembalang akan diistirahatkan dahulu, itu semua karena dana yang sudah menipis bahkan habis. Oleh karena itu bagi siapapun khususnya para donatur yang akan menginfakkan dananya maka kami siap menerima. Pembangunan gedung telah mengabiskan dana sebesar Rp. 105.000.000,- ( seratus lima juta rupiah ). Dana tersebut berasal dari infak/sodaqoh, zakat, dan pinjaman. Terima kasih kepada para donatur semoga ini semua menjadi amal baik bagi kita, dan Alloh swt akan melipat gandakan pahalanya. amin
Langganan:
Postingan (Atom)



